Kerjakan Sesuai Kemampuan, Itulah Yang Terbaik

Membaca hari hari para al-Salaf sungguh mengasyikkan. Kita seolah dibawa bertamasya ke sebuah negeri yang sederhana namun bahagia. Ditangan mereka, kehidupan ini menjelama menjadi sesuatu yang sangat indah. Rumah tanah liat, beberapa potong roti kering, selembar pakaian dan sehelai alas duduk sederhana; itu semua sudah cukup bagi mereka untuk membuat hidup ini selalu indah dan bahagia.

Ah, tapi bukan soal itu yang akan kita renungkan kali ini. Kita membaca tentang mereka, lalu kita sungguh terkagum-kagum saat mengetahui bahwa si fulan melewatkan malam-malamnya dengan qiyamullail tanpa tidur sedikit pun. Ada juga si fulan yang selama berpuluh-puluh tahun mengerjakan puasa sunnah, dan tak seorang pun sanak keluarganya yang mengetahui! Lalu dalam buku yang lain, kita mungkin pernah membaca tentang kisah si fulan yang lain; setiap kali mengucapkan takbiratul ihram, tubuhnya bergetar karena membayangkan dahsyatnya makna yang dikandung kalimat Allahu akbar …Seperti itulah seterusnya. Dan sangat biasa, yah sangat biasa sekali jika tiba-tiba saja dalam hati kita ada sebuah gejolak untuk berusaha meniru jejak-jejak keshalehan itu …

Apakah ada yang salah? Tidak. Sama sekali tidak ada yang salah. Hanya saja kita sering kali tidak bisa mengukur diri. Sekedar ingin meniru, lalu lupa bahwa ada yang dipersiapkan untuk itu …

Pria itu berkisah tentang dirinya …

Hari itu, aku pergi menemui sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Tamim al-Dary. Kami berbicara lama. Hingga akhirnya aku bertanya padanya, “Berapa juz yang tuan baca hari ini?

Sahabat Nabi itu tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya setelah mendengar pertanyaanku. Dan masih dengan tetap tersenyum, ia berkata,

“Saudaraku, jangan-jangn engkau ini termasuk mereka yang bila membaca al-Qur’an di malam hari, lalu saat pagi menjelang ia pun berkata kepada orang-orang, ‘Malam ini aku telah membaca al-Qur’an sekian dan sekian …’. Hmm, sungguh demi Allah, mengerjakan shalat sekedar 3 raka’at di malam hari jauh lebih aku sukai daripada membaca al-Qur’an semalam suntuk, lalu ketika pagi tiba aku harus menceritakannya kepada orang lain …”. 

Entah mengapa, aku tersinggung mendengar ucapannya. Aku marah. Dalam kemarahanku itu, aku katakana pada beliau, “Demi Allah! Kalian sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup seharusnya diam saja, daripada harus menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!!”

Tapi, Subhanallah, beliau tetap saja tenang. Suaranya justru semakin lembut padaku. “Tenanglah, wahai saudaraku. Marilah aku jelaskan padamu…,” ujarnya. Ia memegang pundakku dan berusaha meredakan kejengkelanku.

“Renungkanlah baik-baik, saudaraku. Andai saja aku ini seorang mu’min yang kuat sementara engkau adalah seorang mu’min yang lemah, lalu engkau berusaha membawa bebanku dengan segala kelemahanmu…Pastilah engkau tak akan sanggup. Engkau akan terjebak dalam keputusasaan. Begitu pula sebaliknya. Andai engkau seorang mu’min yang kuat dan aku adalah mu’min yang lemah…Tentu tidak mungkin aku memikul beban yang sama denganmu. Sebab aku pasti akan berhenti dan putus asa.

Nah, seperti itulah perbedaan antara kita manusia ini dalam beribadah. Maka peganglah agama ini dan laksanakan apa yang engkau mampu untuk mengerjakannya, hingga suatu saat nanti engaku semakin sanggup melakukan ibadah setinggi mungkin…” Demikianlah Abu Tamim al-Dary menutup pertemuan mereka hari itu.

Apa yang dikatakan Abu Tamim, itulah yang diajarkan sabg Nabi yang mulia pada mereka. Keseimbangan. Oh, tidak hanya keseimbangan, tapi juga ke-realistis-an. Bahwa setiap kita harus benar-banar realistis dan jujur pada diri sendiri dalam mengemban kewajiban-kewajiban ini. Teori keseimbangan inilah yang suatu ketika dijabarkan oleh Sang penutup para nabi dan rasul dalam sabdanya, “…Aku shalat di tengah malam, namun aku juga tetap tidur. Aku berpuasa di siang hari, namun aku juga tetap berbuka. Aku juga memakan daging…”. Seperti itulah sunnahnya. Sunnah keseimbangan. Itulah sebabnya, dalam kelanjutan sabda itu beliau mengatakan, “Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidaklah termasuk golonganku.” (Muttafaqun Alaih).

Kisah yang lain…

Namanya Thariq ibn Syihab. Ia adalah seorang tabi’in. Suatu hari, ia duduk menyimak pesan-pesan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, Salman al-Farisy. Dan biarkanlah Thariq sendiri yang menuturkan kisahnya…

Aku duduk menyimak setiap petuahnya. Dan di antara yang dikatakannya adalah; “Bila malam tiba, maka manusia-manusia akan terbagi menjadi 3 golongan: golongan yang malam itu mendatangkan ketenangan untunya, lalu golongan yang malam itu mendatangkan kerugian baginya dan golongan yang tidak meraih kemenangan dan tidak pula terjatuh dalam kerugian…”

“Bagaimana itu bisa terjadi, Tuan?” tanyaku. “Yah, orang yang mendatangkan kemenangan malam itu adalah mereka yang memanfaatkan kelalaian manusia yang terlelap dan gelapnya malam, ia bangun berwudhu lalu mengerjakan shalat.

Adapula yang memanfaatkan kelalaian manusia yang terlelap dan gelapnya malam untuk melangkahkan kakinya menuju maksiat pada Allah. Inilah orang yang malam itu mendapatkan kerugian.

Nah, yang ketiga adalah orang yang tidur hingga pagi menjelang. Inilah orang yang tidak meraih kemenangan namun juga tidak merugi,” paparnya panjang lebar.

Hmm, aku kaum mendengarnya. “Aku akan menyertai pria ini,” bisikku sendiri dalam hati. Akupun menyertai dan mengikutinya dalam sebuah perjalanan. Dan sungguh, ia tidak membedakan dirinya denganku dalam urusan pekerjaan. Jika aku menyiapkan adonan roti, maka ia pun membuatnya menjadi roti. Jika aku yang membuatnya menjadi roti, maka dialah yang membakarnya. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah rumah. Dan kamipun bermalam dan beristirahat di situ.

(Thariq sendiri mempunyai kebiasaan bangun di saat-saat tertentu di malam hari…). Malam itu, aku terbangun. Kupikir aku mungkin sudah terlambat melakukan qiyamullail. “Pastilah sahabat Nabi itu sudah mendahuluiku…,” demikian pikirku. Tapi…betapa terkejutnya aku!! Ia masih saja tertidur. Begitu nyenyak.

Subhanallah!!Sahabat Rasulullah yang jauh lebih baik dariku masih saja tertidur!!” ujarku.

Maka aku pun kembali melanjutkan tidurku. Tidak lama kemudian aku kembali terbangun. Tapi sahabat Nabi itu masih saja tertidur. Hanya saja kusimak jika ia membalikkan tubuhnya, ia selalu mengucapkan, “Subhanallah, walhamdulillah, wa la illallah, wallahu akbar, la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”

Demikianlah. Hingga saat waktu shalat subuh menjelang, barulah ia terbangun. Setelah berwudhu, beliau pun mengerjakan shalat 4 raka’at. Dan aku masih tertegun penuh heran. “Sama sekali tidak ada yang istimewa…,” bisikku dalam hati. Tak pernah kusangka. Ini benar-benar di luar dugaanku ang membumbung tinggi memandang sosok sahabat Nabi.

Usai menunaikan shalat subuh, aku beranikan diri untuk bertanya padanya tentang semua itu. Wahai Abu Abdillah ujarku membuka pembicaraan, “bila malam tiba, aku selalu bangun di saat-saat tertentu untuk mengerjakan qiyamullail. Tapi aku sungguh terkejut dan tidak menduga, saat aku terbangun, kulihat Tuan masih saja tertidur…,” lanjutku menjelaskan.

Salman al-Farisy tersenyum.

“Lalu saat engkau terbangun, apakah yang engkau dengarkan terucap dari mulutku??” tanyanya.

 Aku pun memberitahunya tentang dzikir yang ia gumamkan setiap membalikkan tubuhnya.

 “Wahai saudaraku, bukankah itu juga sama dengan shalat??! Bukankah shalat lima waktu akan menjadi penghapus dosa yang tejadi di antara waktu-waktunya selama kita menjauhi dosa-dosa besar?? Demikianlah pula dengan dzikir itu, bukankah ia dapat menghapus dosa??” jelasnya.

Masih dengan tersenyum, ia berpesan, “Saudaraku, senantiasalah meniti jalan peretengahan dalam menjalankan agama Allah ini. Karena jalan inilah yang akan mengantarkanmu kepada Allah.”

Aku hanya menganggukkan kepalaku… Sungguh luar biasa!

Sederhana. Seimbang. Berkelanjutan. Setidaknya itulah kata-kata yang mewakili jalan penghambaan orang-orang shaleh generasi agung itu. Entah apa yang dapat kita ucapkan tentang diri kita. Ah, tapi kita bisa menduga apa yang akan kita lakukan. Kita mungkin akan menjadikan kisah mereka itu sebagai sebuah pembenaran terhadap kegilaan kita mencari dunia dan “melonggarkan” ibadah kita padaNya. “Ah, jangan memikirkan akhirat terus, dunia kan juga perlu…,” mungkin kita akan mengatakan itu. Tapi jawablah dengan jujur; apa kita benar-benar pernah memikirkan akhirat?? Dalam kurun waktu 24 jam hari ini, atau kemarin, berapa jamkah yang kita gunakan untuk memikirkan akhirat??...

Ah, saya tak ingin menjawabnya. Andalah yang menjawabnya. Saya tidak punya urusan dengan jawaban Anda. Toh, Anda yang akan bertanggung jawab di akhirat. Tapi ingatlah kata kuncinya; keseimbangan. Anda pasti mengerti dan paham makna sebuah keseimbangan…Insya Allah.

Untaian Kisah yang Membangkitkan Cahaya Iman

Saat Ia Berada di Titik Jenuh

 

Abul Miqdad al-Madany


Tetap update tulisan dari khalisya di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!

 Share ke Facebook

Posted in . 3 Comment »


3 Response to Kerjakan Sesuai Kemampuan, Itulah Yang Terbaik

  1. vicky Says:

    hanya dengan melakukan sekuat tenaga lah kita bisa menghasilkan sesuatu yang berarti bagi diri kita sendiri....

  2. fatur Says:

    semoga kita bisa beribadah dengan seimbang dan istiqamah. amin.

  3. tatu Says:

    Iman, Ilmu, Ama

    tuk meningkatkan keimanan, tuntutlah ilmu
    tuk memperpanjang ilmu yang kita pelajari, amalkanlah
    dgn mengamalkan ilmu yang kita raih, kekuatan iman semakin tebal
    tuk menyelaraskan kebutuhan dunia dan akhirat

Leave a Reply