Kerjakan Sesuai Kemampuan, Itulah Yang Terbaik
18 April 2009Membaca hari hari para al-Salaf sungguh mengasyikkan. Kita seolah dibawa bertamasya ke sebuah negeri yang sederhana namun bahagia. Ditangan mereka, kehidupan ini menjelama menjadi sesuatu yang sangat indah. Rumah tanah liat, beberapa potong roti kering, selembar pakaian dan sehelai alas duduk sederhana; itu semua sudah cukup bagi mereka untuk membuat hidup ini selalu indah dan bahagia.
Ah, tapi bukan soal itu yang akan kita renungkan kali ini. Kita membaca tentang mereka, lalu kita sungguh terkagum-kagum saat mengetahui bahwa si fulan melewatkan malam-malamnya dengan qiyamullail tanpa tidur sedikit pun.
Apakah ada yang salah? Tidak. Sama sekali tidak ada yang salah. Hanya saja kita sering kali tidak bisa mengukur diri. Sekedar ingin meniru, lalu lupa bahwa ada yang dipersiapkan untuk itu …
Hari itu, aku pergi menemui sahabat Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, Tamim al-Dary. Kami berbicara lama. Hingga akhirnya aku bertanya padanya, “Berapa juz yang tuan baca hari ini?
Sahabat Nabi itu tersenyum. Entah apa yang ada dalam pikirannya setelah mendengar pertanyaanku. Dan masih dengan tetap tersenyum, ia berkata,
Entah mengapa, aku tersinggung mendengar ucapannya. Aku marah. Dalam kemarahanku itu, aku katakana pada beliau, “Demi Allah! Kalian sahabat-sahabat Nabi yang masih hidup seharusnya diam saja, daripada harus menyalahkan orang yang bertanya pada kalian!!”
Nah, seperti itulah perbedaan antara kita manusia ini dalam beribadah. Maka peganglah agama ini dan laksanakan apa yang engkau mampu untuk mengerjakannya, hingga suatu saat nanti engaku semakin sanggup melakukan ibadah setinggi mungkin…” Demikianlah Abu Tamim al-Dary menutup pertemuan mereka hari itu.
Apa yang dikatakan Abu Tamim, itulah yang diajarkan sabg Nabi yang mulia pada mereka. Keseimbangan. Oh, tidak hanya keseimbangan, tapi juga ke-realistis-an. Bahwa setiap kita harus benar-banar realistis dan jujur pada diri sendiri dalam mengemban kewajiban-kewajiban ini. Teori keseimbangan inilah yang suatu ketika dijabarkan oleh Sang penutup para nabi dan rasul dalam sabdanya, “…Aku shalat di tengah malam, namun aku juga tetap tidur. Aku berpuasa di siang hari, namun aku juga tetap berbuka. Aku juga memakan daging…”. Seperti itulah sunnahnya. Sunnah keseimbangan. Itulah sebabnya, dalam kelanjutan sabda itu beliau mengatakan, “Maka barangsiapa yang membenci sunnahku, maka ia tidaklah termasuk golonganku.” (Muttafaqun Alaih).
Kisah yang lain…
Namanya Thariq ibn Syihab. Ia adalah seorang tabi’in. Suatu hari, ia duduk menyimak pesan-pesan salah seorang sahabat Nabi Shallallahu alaihi wa Sallam, Salman al-Farisy. Dan biarkanlah Thariq sendiri yang menuturkan kisahnya…
Aku duduk menyimak setiap petuahnya. Dan di antara yang dikatakannya adalah; “Bila malam tiba, maka manusia-manusia akan terbagi menjadi 3 golongan: golongan yang malam itu mendatangkan ketenangan untunya, lalu golongan yang malam itu mendatangkan kerugian baginya dan golongan yang tidak meraih kemenangan dan tidak pula terjatuh dalam kerugian…”
“Bagaimana itu bisa terjadi, Tuan?” tanyaku. “Yah, orang yang mendatangkan kemenangan malam itu adalah mereka yang memanfaatkan kelalaian manusia yang terlelap dan gelapnya malam, ia bangun berwudhu lalu mengerjakan shalat.
Adapula yang memanfaatkan kelalaian manusia yang terlelap dan gelapnya malam untuk melangkahkan kakinya menuju maksiat pada Allah. Inilah orang yang malam itu mendapatkan kerugian.
Nah, yang ketiga adalah orang yang tidur hingga pagi menjelang. Inilah orang yang tidak meraih kemenangan namun juga tidak merugi,” paparnya panjang lebar.
Hmm, aku kaum mendengarnya. “Aku akan menyertai pria ini,” bisikku sendiri dalam hati. Akupun menyertai dan mengikutinya dalam sebuah perjalanan. Dan sungguh, ia tidak membedakan dirinya denganku dalam urusan pekerjaan. Jika aku menyiapkan adonan roti, maka ia pun membuatnya menjadi roti. Jika aku yang membuatnya menjadi roti, maka dialah yang membakarnya. Hingga akhirnya kami tiba di sebuah rumah. Dan kamipun bermalam dan beristirahat di situ.
(Thariq sendiri mempunyai kebiasaan bangun di saat-saat tertentu di malam hari…). Malam itu, aku terbangun. Kupikir aku mungkin sudah terlambat melakukan qiyamullail. “Pastilah sahabat Nabi itu sudah mendahuluiku…,” demikian pikirku. Tapi…betapa terkejutnya aku!! Ia masih saja tertidur. Begitu nyenyak.
“Subhanallah!!Sahabat Rasulullah yang jauh lebih baik dariku masih saja tertidur!!” ujarku.
Maka aku pun kembali melanjutkan tidurku. Tidak lama kemudian aku kembali terbangun. Tapi sahabat Nabi itu masih saja tertidur. Hanya saja kusimak jika ia membalikkan tubuhnya, ia selalu mengucapkan, “Subhanallah, walhamdulillah, wa la illallah, wallahu akbar, la ilaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syai’in qadir.”
Usai menunaikan shalat subuh, aku beranikan diri untuk bertanya padanya tentang semua itu. Wahai Abu Abdillah ujarku membuka pembicaraan, “bila malam tiba, aku selalu bangun di saat-saat tertentu untuk mengerjakan qiyamullail. Tapi aku sungguh terkejut dan tidak menduga, saat aku terbangun, kulihat Tuan masih saja tertidur…,” lanjutku menjelaskan.
Masih dengan tersenyum, ia berpesan, “Saudaraku, senantiasalah meniti jalan peretengahan dalam menjalankan agama Allah ini. Karena jalan inilah yang akan mengantarkanmu kepada Allah.”
Sederhana. Seimbang. Berkelanjutan. Setidaknya itulah kata-kata yang mewakili jalan penghambaan orang-orang shaleh generasi agung itu. Entah apa yang dapat kita ucapkan tentang diri kita. Ah, tapi kita bisa menduga apa yang akan kita lakukan. Kita mungkin akan menjadikan kisah mereka itu sebagai sebuah pembenaran terhadap kegilaan kita mencari dunia dan “melonggarkan” ibadah kita padaNya. “Ah, jangan memikirkan akhirat terus, dunia
Ah, saya tak ingin menjawabnya. Andalah yang menjawabnya. Saya tidak punya urusan dengan jawaban Anda. Toh, Anda yang akan bertanggung jawab di akhirat. Tapi ingatlah kata kuncinya; keseimbangan. Anda pasti mengerti dan paham makna sebuah keseimbangan…Insya Allah.
Saat Ia Berada di Titik Jenuh
Abul Miqdad al-Madany
Tetap update tulisan dari khalisya di manapun dengan http://m.cybermq.com dari browser ponsel anda!

Senin, 16 November 2009 01:02 WIB
Rabu, 18 November 2009 07:39 WIB
Selasa, 26 Januari 2010 05:49 WIB
tuk meningkatkan keimanan, tuntutlah ilmu
tuk memperpanjang ilmu yang kita pelajari, amalkanlah
dgn mengamalkan ilmu yang kita raih, kekuatan iman semakin tebal
tuk menyelaraskan kebutuhan dunia dan akhirat