Syukurilah Kejelitaanmu!

Kejelitaan dan kecantikan. Duhai, betapa mempesonakan. Membuat hati tertawan dalam kilasan bayangan-bayangannya. Banyak pria yang benar-benar terpenjara dalam jeruji-jeruji mengenangnya. Banyak pria yang benar-benar terpenjara dalam jeruji-jeruji mengenangnya. Sudah tentu, karena ini adalh sebuah hukum alamiah, peristiwa semacam ini selalu berulang. Di setiap zaman. Di setiap tempat.

Para pemilik kejelitaan itu sungguh menyadari kekuatan yang dimilikinya. Ada kebanggaan tersendiri di hatinya bila ada pria yang terjerat dan tertawan dalam mengenangnya. Semakin banyak jumlahnya, ah…semakin berhargalah dirinya ia rasakan. Tapi ada sebuah pertanyaan yang tak kunjung terjawab dengan cerdas oleh mereka; lalu setelah itu, apa?? Yah, setelah tawanan-tawanan kejelitaanmu sedemikian banyak dan engkau merasa semakin berharga, lalu setelah itu apa?? Ah, sudahlah.

Sebuah kisah tentang kejelitaan. Di jantung kota suci Islam, Mekkah al-Mukarramah…

Seorang wanita yang sangat jelita tengah duduk bersama suaminya di rumah mereka. Wanita itu sedang melihat wajahnya di cermin. Duhai, betapa jelitanya aku. Ia berbisik sendiri sembari tersenyum. Ada kebanggaan yang luar biasa dahsyatnya tiba-tiba mengalir dalam dadanya. Ia takm kuasa memendamnya. Hingga akhirnya ia menengok kepada suaminya, dan mengatakan,

“Wahai suamiku, coba engkau lihat wajahku ini, betapa jelitanya.” Suaminya tersenyum. “Tentu, Istriku. Wajahmu begitu rupawan…”

“Menurutmu, dengan kejelitaan wajahku ini, adakah pria yang tak tergoda saat memandangnya??” Tanya wanita itu pada sang suami.

Pria itu terdiam sejenak. Tapi tidak lama. “Ada, Istriku,” jawabnya. “Apa??! Engkau mengatakan ada orang yang tidak akan tergoda melihat wajahku ini??!” Tanya sang istri penuh keterkejutan. Bagaimana mungkin, pikirnya. “Iya, istriku. Ada seorang pria yang tak akan tergoda oleh kejelitaanmu itu…”

“Sssi..apakah dia, Kanda?”

“Pria itu adalah ‘Ubaid ibn ‘Umair …” jawab sang suami. Tampak sekali sebuah kegelisahan menggelayuti wajah wanita rupawan itu. Ia gelisah karena tidak habis pikir. Bagaimana mungkin?? Tapi tiba-tiba saja ia menerima sebuah bisikan. Bisikan syetan yang menunggangi ketakjubannya pada kecantikannya sendiri…

“Suamiku, apakah engkau mengizinkan aku untuk menggodanya??” pintanya tiba-tiba. Entahlah apa yang ada dalam pikiran pria itu mendengar permintaan istrinya. Tapi…

“Baiklah, aku mengizinkanmu untuk menggodanya,” jawabya. Wajah wanita cantik itu seketika berubah cerah. Cerah becampur aroma kenakalan seorang wanita.

Keesokan harinya…

Wanita cantik itu telah siap menjalankan rencananya. Ia bergegas berjalan menuju Mesjidil Haram. Di sana ia akan menemui ‘Ubaid ibn ‘Umair. Ia akan berpura-pura seolah-olah ingin bertanya dan meminta fatwa darinya. Dan setelah itu, “Engkau rasakan jebakanku!” ujar wanita itu pada dirinya sendiri.

Tidak sulit untuk menemui ‘Ubaid ibn ‘Umar. Saat itu ia sedang duduk berdzikir di salah satu sudut mesjid dan tidak duduk di halaqah pengajiannya. Wanita itu mendekatinya. Dengan nada yang sangat sopan, ia mulai berbicara…

“Maaf, Yuan. Bolehkah aku menanyakan beberapa masalah kepada Anda??”

“Oh, iya, tentu saja. Tanyakanlah…,” jawab ‘Ubaid ibn ‘Umair tanpa curiga sedikitpun. Tapi tiba-tiba saja, wanita itu menyingkap wajahnya. Nampaklah kejelitaan dan kecantikannya memancar bak rembulan. ‘Ubaid ibn ‘Umair terkejut…

“Wahai Amatullah!! Tidakkah engkau takut pada Allah??! Mengapa Engkau menyingkap wajahmu seperti itu??!” ujarnya. “Tuan, aku sungguh tergoda dengan Anda…,” kata wanita “jalang” itu. “Lakukanlah apa saja yang Anda inginkan pada diriku…,” lanjutnya semakin menggoda.

‘Ubaid ibn ‘Umair terkejut luar biasa. Nyaris saja ia tidak tahu harus berbuat apa. Namun Allah menolongnya. Ia masih dapat menguasai diri dan pikirannya. “Baiklah. Sebelum aku memenuhi permintaanmu, aku ingin engkau menjawab pertanyaanku. Jika engkau mengiyakan semua pertanyaanku, aku akan penuhi keinginanmu,” kata ‘Ubaid.

“Ah, Tuan. Semua pertanyaanmu pasti akan kuiyakan. Anda tidak usah khawatir…,” jawab wanita itu semakin menggoda. “Baiklah. Katakanlah padaku, jika saja saat ini malaikat maut hadir untuk mencabut nyawamu, apakah engkau masih senang melakukan keinginanmu tadi bersamaku??” begitu pertanyaan ‘Ubaid yang pertama.

Wajah wanita itu berubah. Ia terkejut. Buyar semua yang ia pikirkan sejak tadi. “Ttte..ntu …tti..dak, Tuan,” jawabnya.

“Andai saja engkau telah dimasukkan ke dalam kuburmu, lalu engkau didudukan untuk ditanya, apakah engkau masih berfikir untuk melakukan keinginanmu tadi bersamaku??” Tanya ‘Ubaid yang kedua. Semakin pias paras jelita wanita itu. “Oh, tentu tidak, Tuan.”

“Wahai hamba Allah! Saat kita semua telah berkumpul di padng Mahsyar untuk mengambi catatan amal kita, dan engkau tak tahu; apakah engkau akan menerima catatan amalmu dengan tangan kanan atau tangan kirimu, di saat itu mungkinkah engkau masih berniat melakukan apa yang kau katakana tadi padaku??” kembali ‘Ubaid ibn ‘Umair bertanya untuk ketiga kalinya.

Wanita itu semakin salah tingkah. Pertanyaan-pertanyaan itu membuatnya takut. “Eh..eh..ttte..te.ntu tidak, Tuan.”

“Sekarang bayangkanlah saat-saat engkau akan menyebrangi jembatan yang melintas di atas neraka, engkau tak tahu apakah engkau akan selamat melewatinya atau tidak. Di saat itu, masihkah engkau melakukan apa yang kau pinta tadi padaku??”

“Sama sekali tidak, Tuan…” jawab wanita itu.

“Baiklah. Ketika timbangan amal telah dihadirkan, lalu amalanmu pun dihadirkan, dan saat itu engkau tak tahu apakah kebaikanmu yang berat atau justru kejahatanmu. Masih terpikirkah olehmu untuk melakukannya??” Tanya ‘ubaid untuk keempat kalinya.

“Ah, itu saat yang mengerikan, Tuan. Mana mungkin aku berpikir tentang itu…,” ujarnya.

“Dan sekarang dengarkanlah pertanyaan terakhirku. Renungkanlah saat engkau berdiri di hadapan Allah seorang diri. Engkau akan ditanya. Masihkah di saat seperti itu engkau terbayang untuk memintaku melakukan perbuatan keji itu terhadapmu??”

“Tuan, tidak mungkin…tidak mungkin aku melakukan itu..,” jawab wanita itu. Dan matanya telah memerah. Ia tak sanggup lagi menahan butir-butir air mata yang sejak tadi tertahan…

“Kalau begitu, takutlah pada Allah, wahai Amatullah!! Lihatlah, betapa Allah telah mengaruniakanmu semua nikmat ini!!” ujar ‘Ubaid ibn ‘Umair sembari membalikkan badannya, dan membiarkan wanita jelita itu menangis tersedu-sedu sendiri. Di sana, di salah satu sudut Mesjidil Haram.

Entah apa kini yang ada di benaknya. Tapi jelaslah, pertanyaan-pertanyaan itu terlalu menyentaknya. Ia benar-benar tidak menyangka, sedikit pun, ternyata sang ‘alim yang zuhud itu “menusuk” hati nuraninya yang paling dalam. Dan wanita itupun melangkah pulang kerumahnya…Entah apa yang terjadi nanti…

Pria itu sungguh terkejut. Tadi, saat istrinya meninggalkan rumah, jelas sekali wajahnya begitu berseri-seri. Tapi kini, tiba-tiba saja ia pulang dan…menangis tersedu-sedu. Apa yang telah terjadi?? Saat ia menanyakan itu pada istrinya, istrinya mengisahkan kisahnya bersama ‘Ubaid ibn ‘Umair…

Yang pasti sejarah tak mencatat dengan persis apa kata yang diucapkan pria itu usai menyimak kisah istrinya. Namun yang pasti, sejak hari itu…Iya, sejak hari itu, wanita “penggoda” itu tak menghabiskan waktunya sedikit pun kecuali dalam tangis-tangis penghambaan pada Allah Rabbul ‘alamin. Hidupnya adalah jejak-jejaknya menunaikan puasa di siang hari dan shalat di malam hari. Hingga tercatatlah kata-kata sang suami dalam sejarah.

“Duhai, apa salhku?? Mengapa ‘Ubaid ibn ‘Umair “merusak” istriku?? Dahulu, malam-malamku bersamanya adalah malam-malam pengantin baru. Tapi kini, lihatlah, ia tak ubahnya seperti seorang pendeta…Ia terus-menerus tenggelam dalam ibadahnya…”

Patutkah pria itu dikasihi? Entahlah…Tapi kasihanilah dirimu, wahai seluruh amatullah yang ada di muka bumi ini, jika kejelitaanmu tak membuatmu bersyukur pada yang mengaruniakanmu keindahan itu…[]

Untaian Kisah yang Membangkitkan Cahaya Iman

Saat Ia Berada di Titik Jenuh

 

Abul Miqdad al-Madany



Jangan Pernah Mengeluh

Mengeluh, yah itulah ungkapan yang sering kita tuangkan saat musibah atau bencana menimpa diri kita. Tanpa kita sadari kita sering kali berkeluh kesah. Bahkan kita sering kali menyalahkan Tuhan. Mengapa Allah begitu tidak adil kepada kita, mengapa Allah memberikan ujian ini bertubi-tubi, musibah demi musibah silih berganti rasanya tidak pernah berhenti. Yah, itulah kita manusia yang selalu tidak pernah mensyukuri segala nikmatnya dan tidak pernah ingin mengambil pelajaran dari setiap ujian. Seandainya saja manusia mau berfikir bahwa begitu banyak hikmah dari setiap kejadian yang menimpa diri kita niscaya bertambahlah rasa syukur dan nikmat itu.

 

            Tapi sudah menjadi sunnatullah bahwa manusia tidak akan pernah sanggup menghitung dan menjumlah nikmat yang Allah berikan. Al-Qur’an sendirilah yang menetapkannya. Wa in ta’uddu ni’matallahi la tuhshuha, dan jika kalian berusaha menghitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak akan pernah sanggup menghitungnya. Yah, kita memang tidak akan pernah sanggup untuk menghitungnya karena terlalu banyak nikmat yang telah Allah berikan. Lalu mengapa kita masih berkeluh kesah, di jalan ini seharusnya tidak ada celah untuk mengeluh. Sebab di jalan kehidupan yang fana ini kita sesungguhnya hanya berpindah dari satu nikmat ke nikmat yang lain. Mungkin suatu waktu ada musibah yang singgah dalam hidup ini, tapi musibah itu toh tetap menyisakan nikmat.

Seperti yang pernah diungkapkan Syuraih al-Qadhy pada suatu ketika, “Sungguh ketika sebuah musibah menimpaku, aku selalu memuji Allah sebanyak empat kali:

           

Pertama, aku memuji-Nya karena musibah yang hadir tidaklah lebih besar dari itu. Kedua, aku memuji-Nya karena Ia telah menganugrahkan kesabaran padaku untuk menghadapinya. Ketiga, aku memuji-Nya karena Ia telah memberiku taufiq untuk mengembalikan semuanya pada-Nya dengan harapan pahala dari-Nya. Keempat, aku memuji-Nya karena musibah itu tidak menimpa dan mengahancurkan agamaku”Demikianlah katanya. Lalu apa yang kita katakan saat musibah menimpa kita?? Masihkah kita bersikap keluh kesah dan manyalahkan-Nya??

 

Suatu ketika seorang pria dating menemui Yunus ibn Ubaid. Ia mengeluh di depannya.

 

“Hidupku susah sekali…,” ujarnya. “Entah aku harus berbuat apa. Hidupku benar-banar susah. Dunia ini begitu sempit untukku. Ah, aku tak tahu harus berbuat apa…Duhai, mengapa ini semua terjadi padaku…,” begitulah ia seperti tidak akan berhenti menyampaikan semua keluhnya.

 

Yunus ibn Ubaid menarik nafas. Sangat dalam.

“Maafkan aku, saudaraku… Bolehkah aku bertanya padamu??” ujarnya. “Silahkan, Tuan…”

“Bagaimana jika kedua matamu itu diganti dengan 1000 dinar? Maukah engkau??” Tanya Yunus ibn Ubaid.

“Apa?? Tidak mungkin, Tuan. Bagaimana mungkin aku mengganti kedua mataku hanya dengan seribu dinar??!”

“Bagaimana dengan kedua telingamu??”. “Ah, mustahil Tuan. Bagaimana aku akan mendengar nanti??”. “Kalau begitu, lidahmu sajalah…”

“Tidak, Tuan. Apakah Anda ingin saya jadi bisu hanya karena 1000 dinar??!”

 

Begitulah Yunus ibn Ubaid terus mencecarnya dengan pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Hingga akhirnya, Yunus ibn Ubaid mengatakan, “Lihatlah, saudaraku. Kulihat betapa banyaknya nikmat Allah padamu. Lalu mengapa engkau harus mengeluh hingga seolah-olah tidak ada lagi harapan untuk hidup??”

Pria itu tersipu. Lalu pamit meninggalkan Yunus ibn Ubaid.

 

Jadi selalulah meyakini bahwa setiap musibah sesungguhnya adalah sebuah anak tangga menuju kemuliaan di sisi Allah. Untuk sampai ke sana, tentu kita harus melewati anak tangga itu satu persatu. Apa yang dibutuhkan saat penitian itu? Kesabaran dan keyakinan. Zuhair ibn Nu’aim mengatakan, “Kemuliaan itu tak akan teraih kecuali dengan 2 hal: kesabaran dan keyakinan. Jika engkau hanya memiliki keyakinan tapi tanpa kesabaran, maka kemuliaan itu takkan pernah sempurna. Begitu pula jika engkau hanya menyimpan kesabaran tanpa keyakinan, itupun takkan menyempurnakan kemuliaan itu.”

 

Sahabat Abu al-Ad Darda’juga punya tamtsil yang cantik tentang itu. “Perumpamaan keyakinan dan kesabaran itu ibarat 2 orang petani yang menggali tanah. Jika salah satu dari mereka berhenti dan duduk, maka yang lain pun akan berhenti dan duduk beristirahat.”

 

Hmm, hingga di sini, menurut Anda, bila detik ini sebuah musibah hinggap dalam kehidupan Anda, apakah yang akan Anda lakukan? Inilah pilihan terbaiknya; hadapi dengan kesabaran dan yakinlah bahwa akan ada banyak hikmah dan karunia yang disembunyikan Allah di baliknya.

 

Menapak Mitsaqan Galizha Bagi Mujahid...

Jiwa yang lelah, ...
Toek menapaki jalan yang semakin susah
Ruang hati yang gelisah..
Toek memahami makna resah
Sayap yang setengah..
Toek mengepak di Langit basah

Maka
kan segera jelang..
saat sejenak bersandar bagi pejuang badar..
Saat sejenak berlabuh bagi pejuang teguh..

Dan sejenak itu Mitsaqan galizha..

Mujahid..biadadarimu jemputlah..
Dialah separuh sayap..
separuh pemakna resah
pun separuh jiwa yang lelah..

perjanjian teguh itu akan menangkupkan jiwanya dan mu
Namun jangan terlena mujahid..
Ini awal derap panjang..
bawalah dia bersama lewat perjuangan menuju cintaNya

 

Posted in puisi. 1 Comment »

Hati Hati Bawa Hati

Aduh......,
Susahnya punya hati
Letaknya tersembunyi,
Tapi gerakan tampak sekali

Aduh .....,
Susahnya menjaga hati
makin menahan diri,
makin banyak yang menawan hati

Niat hati lurus dan suci
namun banyak godaan menanti
dilayani kan lupa diri
tak dilayani ? teman sendiri

Makanya.......,
Lebih baik punya istri
Kalau tersenyum ada yang menanggapi
Kalau berekspresi ada yang memahami
Sikapnya lembut tak bikin keki
Kadang malah memuji

"Tuhan tak pernah ingkar janji,
Kalau terus menjaga diri,
Akan mendapat pendamping yang lurus hati"

Tapi kalau masih sendiri
Hati hati bawa hati
Kalau sibuk mencari perhatian,
Kapan kamu mengenal gadis yang bisa menjaga pandangan?
Bagusnya sibuk menyiapkan perbekalan (memperbaiki iman)
Tanpa susah-susah membayangkan
Saat saat tak terbayangkan

Ada pun kalau sudah beristri,
Jangan lupa mengingatkan
Kalau ada yang dilalaikan
Tentang perkara yang disyari�atkan
Tapi kalau ia memelihara kewajiban
Ingat-ingatlah untuk memberi perhatian
Jangan menunggu dapat peringatan

-- Buat yang berada dalam penantian --

 

Posted in puisi. 0 Comment »

Kriiiing

Kriiiing, kriiiiing,kriiiiing, pak pos lewat tepat di depan sekumpulan akhwat yang sedang LIQO’ ( ngaji ), tiba-tiba pak pos menghampiri mereka
“assalamu’alaikum”
“waa’alaikumussalam” jawab akhwat serempak
“afwan, ukhti… ini ada surat untuk mujahidah” kata pak pos
“ooooh… syukron pak”
“ya.. afwan” jawab pak pos singkat, sesingkat beliau mampir ke tempat itu
“assalamu’alaikum” pamit pak pos
“wa’alaikum salam” jawab jilbaber serempak tak sabaran merekapun membuka surat yang baru saja di terimanya. Bereweeeek, sebuah amplop berwarna pink di sobek, lalu seorang murobbiyah pun membacanya, dan mutarobbbiyah khusyu mendengarkannya

“ assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh “ seuntai kata dari surat itu mulai di baca
“wa’alaikum salam warahmatullahi wabaraktuh” jawab jilbaber lagi-lagi kompak
“ukhti… yang di nantikan syurga “ satu persatu murobbiyah mulai mengalirkan kata-kata surat yang di bacanya

Ukhti…Besarnya kerudungmu tidak menjamin sama dengan besarnya semangat jihadmu menuju ridho tuhanmu,mungkinkah besarnya kerudungmu hanya di gunakan sebagai fashion atau gaya jaman sekarang, atau mungkin kerudung besarmu hanya di jadikan alat perangkap busuk supaya mendapatkan ikhwan yang diidamkan bahkan bisa jadi kerudung besarmu hanya akan di jadikan sebagai identitasmu saja, supaya bisa mendapat gelar akhwat dan di kagumi oleh banyak ikhwan

Ukhti…tertutupnya tubuhmu tidak menjamin bisa menutupi aib saudaramu, keluargamu bahkan diri antum sendiri, coba perhatikan sekejap saja, apakah aib saudaramu, teman dekatmu bahkan keluargamu sendiri sudah tertutupi, bukankah kebiasaan buruk seorang perempuan selalu terulang dengan tanpa di sadari melalui ocehan-ocehan kecil sudah membekas semua aib keluargamu, aib sudaramu, bahkan aib teman dekatmu melalui lisan manis mu

Ukhti…lembutnya suaramu mungkin selembut sutra bahkan lebih dari pada itu, tapi akankah kelembutan suara antum sama dengan lembutnya kasihmu pada sauadaramu, pada anak-anak jalanan, pada fakir miskin dan pada semua orang yang menginginkan kelembutan dan kasih sayangmu

Ukhti…lembutnya parasmu tak menjamin selembut hatimu, akankah hatimu selembut salju yang mudah meleleh dan mudah terketuk ketika melihat segerombolan anak-anak palestina terlihat gigih berjuang dengan berani menaruhkan jiwa dan raga bahkan nyawa sekalipun dengan tetes darah terakhir, akankah selembut itu hatimu ataukah sebaliknya hatimu sekeras batu yang ogah dan cuek melihat ketertindasan orang lain.

Ukhti…Rajinnya tilawahmu tak menjamin serajin dengan shalat malammu, mungkinkah malam-malammu di lewati dengan rasa rindu menuju tuhanmu dengan bangun di tengah malam dan ditemani dengan butiran-butiran air mata yang jatuh ke tempat sujud mu serta lantunan tilawah yang tak henti-hentinya berucap membuat setan terbirit-birit lari ketakutan, atau sebaliknya, malammu selalu di selimuti dengan tebalnya selimut setan dan dininabobokkan dengan mimpi-mimpi jorokmu bahkan lupa kapan bangun shalat subuh.

Ukhti…Cerdasnya dirimu tak menjamin bisa mencerdaskan sesama saudaramu dan keluargamu, mungkinkah temanmu bisa ikut bergembira menikmati ilmu-ilmunya seperti yang antum dapatkan, ataukah antum tidak peduli sama sekali akan kecerdasan temanmu, saudaramu bahkan keluargamu, sehingga membiarkannya begitu saja sampai mereka jatuh ke dalam lubang yang sangat mengerikan yaitu maksiat

Ukhti…cantiknya wajahmu tidak menjamin kecantikan hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan diri antum sendiri, pernahkah antum menyadari bahwa kecantikan yang antum punya hanya titipan ketika muda, apakah sudah tujuh puluh tahun kedepan antum masih terlihat cantik, jangan-jangan kecantikanmu hanya di jadikan perangkap jahat supaya bisa menaklukan hati ikhwan dengan senyuman-senyuman busukmu

Ukhti…tundukan pandanganmu yang jatuh ke bumi tidak menjamin sama dengan tundukan semangatmu untuk berani menundukan musuh-musuhmu, terlalu banyak musuh yang akan antum hadapi mulai dari musuh-musuh islam sampai musuh hawa nafsu pribadimu yang selalu haus dan lapar terhadap perbuatan jahatmu,

Ukhti…tajamnya tatapanmu yang menusuk hati, menggoda jiwa tidak menjamin sama dengan tajamnya kepekaan dirimu terhadap warga sesamamumu yang tertindas di palestina, pernahkah antum menangis ketika mujahid-mujahidah kecil tertembak mati, atau dengan cuek bebek membiarkan begitu saja, pernahkah antum merasakan bagaimana rasanya berjihad yang dilakukan oleh para mujahidah-mujahidah teladan

Ukhti…lirikan matamu yang menggetarkan jiwa tidak menjamin dapat menggetarkan hati saudaramu yang senang bermaksiat, coba antum perhatikan dunia sekelilingmu masih banyak teman, saudara bahkan keluarga antum sendiri belum merasakan manisnya islam dan iman mereka belum merasakan apa yang antum rasakan, bisa jadi salah satu dari keluargamu masih gemar bermaksiat, berpakaian seksi dan berprilaku binatang yang tak karuan, sanggupkah antum menggetarkan hati-hati mereka supaya mereka bisa merasakan sama apa yang kamu rasakan yaitu betapa lezatnya hidup dalam kemuliaan islam

Ukhti…tebalnya kerudungmu tidak menjamin setebal imanmu pada sang Khaliqmu, antum adalah salah satu sasaran setan durjana yang selalu mengintai dari semua penjuru mulai dari depan belakang atas bawah semua setan mengintaimu, imanmu dalam bahaya, hatimu dalam ancaman, tidak akan lama lagi imanmu akan terobrak abrik oleh tipuan setan jika imanmu tidak betul-betul dijaga olehmu, banyak cara yang harus antum lakukan mulai dari diri sendiri, dari yang paling kecil dan seharusnya di lakukan sejak dari sekarang, kapan lagi coba….

Ukhti…Putihnya kulitmu tidak menjamin seputih hatimu terhadap saudaramu, temanmu bahkan keluargamu sendiri, masihkah hatimu terpelihara dari berbagai penyakit yang merugikan seperti riya dan sombong, pernahkah antum membanggakan diri ketika kesuksesan dakwah telah diraih dan merasa diri paling wah, merasa diri paling aktif, bahkan merasa diri paling cerdas diatas rata-rata akhwat yang lain, sesombong itukah hatimu, lalu di manakah beningnya hatimu, dan putihnya cintamu

Ukhti…rajinnya ngajimu tidak menjamin serajin infaqmu ke mesjid atau mushola, sadarkah antum kalo kotak-kotak nongkrong di masjid masih terliat kosong dan menghawatirkan, tidakkah antum memikirkan infaq sedikit saja, bahkan kalaupun infaq, kenapa uang yang paling kecil dan paling lusuh yang antum masukan, maukah antum di beri rizki sepelit itu.

Ukhti…rutinnya halaqahmu tidak menjamin serutin puasa sunnah senin kamis yang antum laksanakan, kejujuran hati tidak bisa di bohongi, kadang semangat fisik begitu bergelora untuk di laksankan tapi, semangat ruhani tanpa di sadari turun drastis, puasa yaumul bidh pun terlupakan apalagi puasa senin kamis yang dirasakan terlalu sering dalam seminggu, separah itukah hati antum, makanan fisik yang antum pikirkan dan ternyata ruhiyah pun butuh stok makanan, kita tidak pernah memikirkan bagaimana akibatnya kalau ruhiyah kurang gizi

Ukhti…manisnya senyummu tak menjamin semanis rasa kasihmu terhadap sesamamu, kadang sikap ketusmu terlalu banyak mengecewakan orang sepanjang jalan yang antum lewati, sikap ramahmu pada orang yang antum temui sangat jarang terlihat, bahkan selalu dan selalu terlihat cuek dan menyebalkan, kalau itu kenyataannya bagaiamana orang lain akan simpati terhadap komunitas dakwah yang memerlukan banyak kader, ingat!!! Dakwah tidak memerlukan antum tapi… antumlah yang memerlukan dakwah, kita semua memerlukan dakwah

Ukhti…rajinnya shalat malammu tidak menjamin) keistiqomahan seperti rosulullah sebagai panutanmu,

Ukhti…ramahnya sikapmu tidak menjamin seramah sikapmu terhadap sang Kholiqmu, masihkah antum senang bermanjaan dengan Tuhanmu dengan shalat dhuhamu, shalat malammu?

Ukhti…dirimu bagaikan kuntum bunga yang mulai merekah dan mewangi, akankah nama harummu di sia-siakan begitu saja dan atau sanggupkah antum ketika sang mujahid akan segara menghampirimu

Ukhti…masih ingatkah antum terhadap pepatah yang masih terngiang sampai saat ini bahwa akhwat yang baik hanya untuk ikhwan yang baik, jadi siap-siaplah sang syuhada akan menjemputmu di pelaminan hijaumu

Ukhti…Baik buruk parasmu bukanlah satu-satunya jaminan akan sukses masuk dalam surga Rabbmu. Maka tidak usah berbangga diri dengan parasmu yang molek, tapi berbanggalah ketika iman dan taqwamu sudah betul-betul terasa dan terbukti dalam hidup sehari-harimu

Ukhti…muhasabah yang antum lakukan masihkah terlihat rutin dengan menghitung-hitung kejelekan dan kebusukan kelakuan antum yang dilakukan siang hari, atau bahkan kata muhasabah itu sudah tidak terlintas lagi dalam hatimu, sungguh lupa dan sirna tidak ingat sedikitpun apa yang harus di lakukan sebelum tidur, antum tidur mendengkur begitu saja dan tidak pernah kenal apa itu muhasabah sampai kapan akhlaq busukmu di lupakan, kenapa muhasabah tidak dijadikan sebagai moment untuk perbaikan diri bukankah akhwat yang baik hanya akan mendapatkan ikhwah yang baik

Ukhti…pernahkah antum bercita-cita ingin mendapatkan suami ikhwan yang ideal, wajah yang manis, badan yang kekar, dengan langkah tegap dan pasti, bukankah apa yang antum pikirkan sama dengan yang ikhwan pikirkan yaitu ingin mencari istri yang solehah dan seorang mujahidah, kenapa tidak dari sekarang antum mempersiapkan diri menjadi seorangan mujahidah yang solehah

Ukhti…apakah kebiasaan buruk wanita lain masih ada dan hinggap dalam diri antum, seperti bersikap pemalas dan tak punya tujuan atau lama-lama nonton tv yang tidak karuan dan hanya kan mengeraskan hati sampai lupa waktu, lupa bantu orang tua, kapan akan menjadi anak yang birrul walidain, kalau memang itu terjadi jadi sampai kapan, mulai kapan antum akan mendapat gelar mujahidah atau akhwat solehah

Ukhti…apakah pandanganmu sudah terpelihara, atau pura-pura nunduk ketika melihat seorang ikhwan dan terlepas dari itu matamu kembali jelalatan layaknya mata harimau mencari mangsa, atau tundukan pandangannmu hanya menjadi alasan belaka karena merasa berkerudung besar

Ukhti… hatimu di jendela dunia, dirimu menjadi pusat perhatian semua orang, sanggupkah antum menjaga izzah yang antum punya, atau sebaliknya antum bersikap acuh tak acuh terhadap penilaian orang lain dan hal itu akan merusak citra akhwat yang lain, kadang orang lain akan mempunyai persepsi disamaratakan antara akhwat yang satu dengan akhwat yang lain, jadi kalo antum sendiri membuat kebobrokan akhlaq maka akan merusak citra akhwat yang lain

Ukhti…dirimu menjadi dambaan semua orang, karena yakinlah preman sekalipun, bahkan brandal sekalipun tidak menginginkan istri yang akhlaknya bobrok tapi semua orang menginginkan istri yang solehah, siapkah antum sekarang menjadi istri solehah yang selalu didamba-dambakan oleh semua orang

Selesai membaca, tak terasa murobbiyah dan mutarobbiyah pun mengeluarkan butiran-butiran halus dari matanya, mereka menangis, meratapi dan muhasabah bersama dalam liqo’atnya….

Mudah2an bermanfaat……..